INDAH HARI-HARI BERSAMA TUHAN

Mungkin ini adalah suatu cara yang diberikan Tuhan kepada saya untuk menyampaikan pengalaman dalam mengenal dan menikmati Tuhan.
Saya merasakan masih banyak sekali diantara kita yang sulit mengenal Tuhan secara riil, hal ini saya rasakan ketika kita melihat/mencoba melihat Tuhan dari sudut yang berada di luar Tuhan.
Pada Tulisan saya ini saya mengajak kita melihat Tuhan dari sudut Tuhan yang adalah Roh, melalui pemahaman lebih lagi akan Prinsip Roh itu sendiri.

Wednesday, March 18, 2009

Hal Pesembahan (komplain hal jenis 2 persembahan)

Saudara dalam nama Tuhan Yesus: Bode Haryanto Tarigan. Tainan Taiwan
Sebuah pembahasan di milis GBKP.
Ada sebuah pertanyaan. Ada seorang anggota jemaat, dia adalah seorang PNS golongan IVa, lalu dia juga punya sawit 50 Ha, Lalu dia juga punya konsultan. Dari gaji PNS dia dapat 3.5 jt/bulan, dari sawit dia 10 jt/bulan dari konsultan dipukul rata 7,5 jt sebulan. Lalu berapa dia harus memberi perpuluhan? Bagaimana dengan kerja rani (persembahan tahunan), dia harus bayar berapa?
Maksud pertanyan di atas adalah betapa sulitnya kita menakar uang masuk seseorang. Mungkin Istri kita pun banyak yang tidak tahu berapa uang masuk suami atau sebaliknya. Tapi yang pasti Tuhan tahu.

Untung saja gereja belum memberikan daftar isian (borang/form) yang menanyakan berapa gaji dan pendapatan kita, lalu menagihnya 10%, seperti pajak pendapatan misalnya yang sedang gencar di lakukan pemerintah RI saat ini. Mungkin gereja menjadi rusuh dan semakin banyak jemaat yang mempertanyakan sejauh mana gereja mengurus uang pribadi jemaat? Atau kenapa gereja membuat hidup jadi tidak nyaman? Gereja mata duitan dan seterusnya.
Rev John Crocker dalam kotbahnya di TICC mengambil contoh sebuah kehidupan gereja di Wales. Ia menyatakan ada seorang Pastor di Wales yang diangkat menjadi orang kudus bernama Saint David yang diperingati setiap 1 Maret di negeri Inggris sana. Pastor yang menerapkan hidup kebersamaan, tidak boleh menggunakan kata my (milik pribadi) dalam segala bentuk harta benda, semua adalah milik bersama. Apakah ini menjadi contoh yang baik bagi dalam gereja? ternyata belum tentu, mungkin mereka mengambil contoh dari kehidupan jemaat mula mula (Kis. para rasul 1) tetapi apakah itu format yang benar? Mereka sedang mencari bentuk model kehidupan bergerja hidup dalam persekutuan dan semua dipersembahkan untuk kepentingan jemaat yang juga adalah kepentingan gereja. Namun ini tidak menjadi hal yang mudah dan memerdekakan.
Sebagai orang percaya, tentunya kita percaya apa yang kita peroleh itu adalah berkat Tuhan. Seperti tanggapan/masukkan beberapa kawan kita, rasanya kita sudah mendapat, kenapa kita tidak mengembalikan sebahagian yang kita dapat sebagai ucapan syukur kita kepada Tuhan. Salurannya ada yang melalui gereja and ada yang secara langsung kepada orang yang memerlukan.

Di satu sisi, mungkin persoalannya kita tidak terlalu mau diatur, kita mau merdeka. Padahal menurut alkitab kemerdekaan itu hanya mungkin bila kita hidup didalam roh (hidup kudus dan memiliki hubungan secara khusus dengan Tuhan senantiasa). Roh yang memerdekakan. Persoalannya apakah semua jemaat senantiasa kembali ke roh? Hidup didalam roh adalah hidup dengan menunjukkan buah-buah roh itu. Maka seharusnya gereja tidak lagi sibuk ngurusi kekurangan keuangan karena semua otomatis sudah memberi dengan suka cita sebagi buah rohaninya.

Apakah kita sudah dengan suka cita memberi?
Pada dasarnya kita sedang diproses ke arah sana, namun teori dan praktenya tentulah tidak sama. Saya yakin sudah banyak anggota GBKP yang telah memberi dengan suka cita. Lalu bagaimana dengan yang belum?

Menurut pengalaman yang ada dan kita temui termasuk di GBKP, salah satu cara untuk dapat mengalami firman Tuhan (pengalaman rohani) adalah dengan memberikan perpuluhan dan satu lagi dengan menyeru nama Tuhan (Roma 10;13). Banyak orang bersaksi akan kedua hal itu: perpuluhan dan menyeru nama Tuhan. Kalau kita mau merasakan pengalaman rohani, ya memberikan perpuluhanlah dengan suka cita. pasti kita akan merasakannya. (lain kali kita bahas ini akan melebar).

Jika kita kaitkan dengan membreikan persembahan maka menurut saya, GBKP sesunguhnya sudah di merdekakan. Kalau dulu dengan berbagai nama amplop di antar ke rumah2 lagi, sekarang terserah kita, hanya diuletakkan didepan pintu gereja, mau memberi atau tidak tidak ada yang tahu karena boleh NN. Ini pengalaman di GBKP Simp Marindal saat ini.

Kita tidak dipaksa, dan jika memang sedang tidak punya uang, tidak perlu memberi (misalnya jika baru di PHK, sedang banyak pengeluaran anak-anak sekolah atau alasan lainnya). Tuhan lebih tahu semua itu. Namun tentunya kita punya cara untuk memberikan waktu dan tenaga kita untuk gereja, itu lebih baik ketimbang memaksakan diri memberikan perpuluhan, padahal memang sdg minus.

Sebuah kesaksian, seorang manager bank di Taiwan yang memiliki gaji jauh di atas rata-rata, dia selain memberi persembahan juga di hari libur datang kegereja melap kursi-kursi dan meja serta mengepel lantai. Itulah suka cita beliau. Walaupun ini agak langka, namun adalah cermin juga bahwa persembahan uang itu bukan segala galanya.Bagaimana dengan kita?

Hal kerja rani (persembahan tahunan) tentunya ada faktor tertentu, mungkin kita tidak tahu apa faktor itu, namun yang pasti bukan semata mengejar fresh money lah, kan itu hasil kesepakatan dan di doakan. Bisa saja itu proses-proses yang disiapkan oleh gereja agar kita lebih kasih dan peduli.

Karena tentunya Gereja GBKP (mungkin di gereja-gereja lain juga) masih banyak yang jemaatnya petani benaran, dan dia akan sangat bersuka cita bila di tawarkan bentuk persembahan yang bersifat tahunan atau kerja rani. Dan mereka mungkin akan memilih itu dibanding perpuluhan. Dan tentunya suka cita mingguannya dapat diberikan melalui kolekte.

Ya silahkan kita merasakan berkat yang kita peroleh dan silahkan belajar bersyukur mengenal berbagai bentuk persembahan dan memberikan dengan suka cita. Lebih baik tidak memberi dari pada bersungut-sungut. Tapi tentunya kita dapat belajar dari setiap yang kita lakukan untuk Tuhan, karena Tuhan memiliki cara sendiri untuk memberi orang-orang percaya berkat-berkatnya.

Berkatnya itu kadang yang kadang-kala kita lihat dari bentuk uang semata, padahal kita diberikan banyak hal, kesehatan, kesabaran, kemenangan dalam berbagai tantangan dan sebagainya.

Semoga kita lebih bijaksanalah melihat keputusan gereja, karena Roh mengajarkan kita melihat segala sesuatu secara positif. Dan biarkan Roh itu juga yang mengajarkan kita agar tulus seperti merpati dan cerdik seperti ular. Namun persembahan yang sejati adalah menyerahkan Tubuh, jiwa dan roh kita kepada Tuhan didalam penghidupan gereja.

Transformasi Rohani Saulus-Paulus (contoh khusus)

Saudara dalam namaNya : Bode Haryanto Tarigan, Tainan Taiwan


Ini adalah kelanjutan dari dua Tulisan sebelumnya.

Kita sering salah mengartikan siapa Saulus. Saulus adalah seorang manusia yang mencari hadirat Tuhan. Dari alkitab kita mendapatkan bahwa pada waktu itu Saulus menganggap cara dia itulah yang benar, dengan menyiksa dan membunuh pengikut Yesus, yang dia anggap mencemari keyakinan dia. Tuhan sendiri datang untuk memberikan pengenalan akan siapa sebenarnya Tuhan itu dan apa maunya Tuhan.

Secara prinsif Saulus telah menghidupkan rohnya, tetapi dia bersekutu dengan roh yang tidak dia kenal dengan benar, dia menempelkan rohnya dengan gen roh yang lain karena pada saat itu memang sangat sulit mengenal siapa dan apakah yang di maui Yahweh itu (Tuhan segala roh itu). Coba kita membaca perjanjian lama, coba kita pelajari Abraham, David, Salomo bahkan hingga Yohanes pembabtis masih salah dalam mengenal Bapa Yahweh itu.

Ketika Yesus bertemu dengan orang-orang Yahudi yang mengaku mereka adalah keturunan Abraham, tapi Yesus mengatakan bapa mu adalah iblis (Yoh 8:44). Artinya bahwa mereka telah tertipu dan mudah tertipu oleh roh-roh lain. Ini berlaku juga dengan agama-agaman atau kepercayaan lainnya, mudah tertipu oleh roh-roh lain itu. Saulus/Paulus adalah sebuah hal khusus, Tuhan mengultimatkan penempelan RohNya kepada Saulus, dengan cara sedemikian rupa. Tuhan membantu menganti rohnya menjadi roh-Roh Tuhan pada saat itu. Namun harus kita sadari bahwa Saulus adalah seorang yang senang tiasa mencari hadirat Tuhan dan Tuhan menemuinya.

Pernahkah kita bayangkan jika biksu-biksu Budha (yang pada digundul itu) yang terus-menerus mencari hadirat Tuhan, dan akhirnya didatangi oleh Roh Tuhan, mungkin kita akan sangat jauh ketingalan dengan mereka, karena mereka sebenarnya sedang menghidupkan rohnya dan berkontak dengan roh-roh lain itu.

Yang menjadi masalah adalah jika kita membandingkan dengan seorang yang mengaku kristen, tetapi asal telah kristen, asal telah bertuhan, asal telah dibaptis, saudara saudari seperti inilah yang menjadi batu sandungan di dalam kesaksian untuk menunjukkan pekerjaan Tuhan dan roh Tuhan di dalam manusia percaya.


Ada faktor yang penting yang menjadi kendala dalam mentranformasi Roh Tuhan kedalam hidup kita, Cobalah kita baca Lukas 8 : 11 - 18. Hal menabur benih.

Perlu kita ingat bahwa Firman Tuhan adalah Roh Tuhan, adalah makanan roh/rohani, sehingga perumpamaan tersebut mengambarkan juga bagaimana masalah atau kendala yang dihadapi dalam proses mentransformasi Roh itu kedalam hati manusia.

Dalam ayat itu mengatakan, bahwa bagaimana firman yang ditabur didalam hati itu dapat tumbuh. Artinya ketika kita didalam gereja sedang mengalami proses transformasi rohani seperti yang diumpamakan oleh Yesus dalam Lukas 8 tersebut. Apa-apa saja yang menjadi penghalang,

12. Yang jatuh di pinggir jalan itu ialah orang yang telah mendengarnya; kemudian datanglah Iblis lalu mengambil firman itu dari dalam hati mereka, supaya mereka jangan percaya dan diselamatkan

(iblis dengan sengaja mengambil firman itu dari dalam hati)

13 Yang jatuh di tanah yang berbatu-batu itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menerimanya dengan gembira, tetapi mereka itu tidak berakar, mereka percaya sebentar saja dan dalam masa pencobaan mereka murtad

(Mereka yang tidak hidup dalam persekutuan, sehingga ada masalah yang dihadapi langsung kalah/jatuh kedalam dosa)

14. Yang jatuh dalam semak duri ialah orang yang telah mendengar firman itu, dan dalam pertumbuhan selanjutnya mereka terhimpit oleh kekuatiran dan kekayaan dan kenikmatan hidup, sehingga mereka tidak menghasilkan buah yang matang.



(terhimpit masalah-masalah misalnya ekonomi dan mereka menjadi percaya tidak dengan mutlak, namun kondisional)

15. Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan."


(mereka yang senantias menjaga hubungannya dengan Tuhan, roh-Roh di dalam hatinya secara tekun, otomatis akan membuahkan buah-buah roh dan ketekunan)

Dalam proses transformasi ternyata ada beberapa hal yang sangat mempengaruhi, seperti keinginan iblis langsung, faktor persekutuan dan pembelajaran dan faktor lingkungan dan ekonomi.

Tuhan yang menolong.

Transformasi Rohani (Pembahasan)

Saudara dalam Yesus: Bode Haryanto Tarigan, Tainan Taiwan
Apa yang saya sampaikan ini adalah pengalaman dan pemahaman saya, kita boleh berbeda pendapat, dan tentunya dapat kita diskusikan. Tulisan di bawah adalah mengambil filosofi dari tranformasi dalam proses teknik genetik (engineering genetic).

Dan ini semua hanya sebuah analogi, kebenaran Mutlak itu adalah milik Tuhan.

Hal proses penempelan,
Saya lebih cendrung mengatakan penempelan sedemikian rupa ketimbang hanya terjadinya reaksi (bukan sekedar reaksi), karena roh-Roh itu benar-benar bersatu (menjadi satu roh). Dalam banyak hal alkitab PB mengajarkan hal satu roh, termasuk dalam pemberkatan sebuah pernikahan satu daging hanya dapat difahami di dalam roh di dalam satu roh.

Roh-roh itu benar-benar nempel. ini mengacu kepada prinsip Tuhan adalah Amin dan Amin. Dalam arti ketika manusia telah di transformasi secara rohani lalu ia berbuat dosa lagi maka roh-Roh itu tetap ada, tetapi kita sedang mengabaikan roh itu di dalam hati kita. Karena ketika kita sedang jatuh kedalam dosa pun Tuhan Yesus tetap mengetuk hati kita, agar kita membuka hati kita dan kembali kepada Roh itu. Ketika kita jatuh ke dalam dosa, rasul Paulus katakan" tubuh diserahkan kepada maut tapi roh (roh manusia) Tuhan pelihara". Tuhan memelihara roh-Roh itu karena Tuhan ya dan amin. Keleluasaan kita itu tentun memiliki batas juga yaitu jangan sampai kita menduakan Roh itu, misalnya dengan menyembah roh lain; menghujat roh kudus yaitu dosa yang tidak dapat diampuni (Mark 3 29).

Hal Mekanisme transfortasi rohani,
Saya jadi teringat pertanyaan Rev. Dr. Lauren dari Madagaskar, yang dalam khotbahnya di TICC menanyakan: "coba ingat, sejak kapan (umur berapa) kita pertama kali tertarik untuk datang ke gereja untuk mendengar firman Tuhan, bukan karena motivasi lain. Lalu sejak kapan kita mulai tertarik secara mandiri untuk membaca alkitab, dan kita mulai merasakan adanya sesuatu yang membuat kita semakin tertarik mendengar, membaca, kemudian berdiskusi dan bersaksi (pengalaman rohani) akan pengalaman kehidupan kita didalam Tuhan?

Waktu itu kami diberi kesempatan merenung diam selama 3 menit, kemudia dipersilahkan menjawab satu persatu dan hampir semua jawabnnya berbeda. Hanya dua orang yang menjawab hampir sama, Rev. Dr. Augustine dan Sis. Meiling karena kebetulan kedua bapak mereka adalah pendeta.

Padahal seharusnya kan sama. Kenapa berbeda?

Mekanisme atau proses terjadinya transformasi genetik rohani, seharusnya telah sempurna saat kita sedang mengaku percaya lalu dibaptis, lalu dimateraikan tanda miliknya lalu menjadi satu roh dengan Tuhan.

Proses ini hampir tidak mungkin hanya berlangsung selama kita belajar naik sidi/ngawan (kami dulu 3 bulan, sekarang 6 bulan), proses transformasi ini seharusnya sudah berlangsung sejak kita diserahkan kegereja (bayi), proses itu berlanjut kita sekolah minggu, remaja dan akhirnya belajar ngawan. Belajar ngawan hanya sebagai sebuah persiapan seremonial saja menuju ke pengakuan percaya dan dibabtis, serta dimateraikan menjadi milik Tuhan dan satu roh dengan Tuhan secara sempurna.

Namun apakah proses sebelumnya hingga kita ngawan itu telah membuat kita benar-benar percaya dan mengalami tertransformasi? Pengalaman saya, menjawab. Belum.

Dalam beberapa Tulisan kita coba diingatkan bahwa, kita memerlukan pelayan Tuhan yang tangguh, karena pekerjaan ini sangat prinsif dan penting dalam membentuk proses ke arah transformasi rohani. Kita memerlulkan guru-guru KA/KR, Pt Dk dan Pendeta yang tangguh. Dan tentunya juga sebagai orang tua yang tangguh di dalam Tuhan.

Mekanisme tranformasi
Menurut Alkitab manusia terdiri dari roh, tubuh dan jiwa yang merupakan suatu kesatuan yang saling berhubungan (interkonektif) dan masing-masing memiliki fungsi. Fungsi roh adalah untuk berkontak dengan roh (bukan hanya roh Tuhan saja, roh-roh lain juga). Ateis dapat kita nyatakan kelompok orang yang tidak mengaktifkan rohnya. Artinya dapat dianalogkan spt manusia yang punya tangan tapi tidak pernah dipergunakan.

Manusia yang percaya kepada adanya kekuatan supranatural adalah manusia yang mengaktifkan/ menghidupkan rohnya, dan menggunakan roh itu untuk berhubungan dengan roh-roh itu. Semua agama dan kepercayaan melakukan hal itu termasuk kelompok samawi: yahudi, kristen dan islam.

Tetapi didalam kekeristenan, ternyata proses interaksi roh-roh itu dapat difahami lebih mudah dan dengan sempurna. Semua itu karena dalam kekristenan kita memiliki Yesus yang adalah manusia dan Tuhan yang sempurna. Bersyukurlah kita mengenal Yesus. Saya berani mengatakan pengenalan kita akan Roh Tuhan (Yahweh) jauh lebih sempurna di dalam Yesus, ketimbang pengenalan Budha sendiri dan nabi lainnya akan Tuhan yang sesunguhnya itu, karena:
1. Di dalam Yesus kita dapat mengenal Yahweh, karena rahasia Bapak ada didalam Anak yaitu Yesus Kristus. Yesus mengatakan Aku dan Bapa adalah satu.
2. Ada suara dari langit yang berseru inilah anakKu yang Ku Kasihi:( Yahweh memperkenalkan/ merekomendasikan Yesus).
3. Yesus mengatakan sebelum Ia naik ke surga: jangan takut akan datang Roh penolong yaitu Roh Kudus (Yesus memperkenalkan/ merekomendasikan Roh Kudus).
Maksudnya adalah dalam kita diproses untuk mengenal Tuhan secara rohani kita sudah mengenal ROH itu, dan kita tidak akan salah lagi. Artinya kita sudah mengenal Gen pembawa sifat/Gen Tuhan itu dengan benar (Roh yang benar). Berarti:
1. Kita sudah benar tidak akan salah memilih Roh/Gen yang mana yang akan kita tempelkan.
2. Dalam proses penempelan itu kita di tolong oleh Roh itu sendiri yaitu Roh Kudus yang telah direkomendasikan oleh Yesus sendiri. (kalau saya pribadi, iman saya mengatakan Yesus dan Roh Kudus adalah satu. Tentunya Yesus tidak ingin membuat murid2nya binggung, dengan mengatakan, jangan takut, saya akan berubah jadi Roh Kudus. Coba baca Mark 9: 9-10, Yesus mengatakan kepada Petrus, Yakobus, Yohanes bahwa ANAK MANUSIA BANGKIT DIANTARA ORANG MATI, murid-murid kebingunan dengan pernyataan Yesus tersebut. Apalagi Yesus mengatakan akan menjadi Roh Kudus, mungkin mereka akan semakin binggung, walaupun akhirnya mereka menyadari juga hal itu.)
3. Medianya adalah Gereja yaitu organisasi rohani yang dirancang oleh Tuhan sendiri. Gereja yang adalah kumpulan manusia-manusia rohani (kaum kudus) yang akan saling membantu memberikan pengetahuan akan Roh itu, kemuliaan dan kasih itu melalui apa yang kita kenal dengan kegiatan koinonia/bersekutu diakonia/melayani dan marturia/bersaksi. Proses pembelajaran didalam persekutuan (PA/bible study, PJJ, Retreat, kebaktian keluarga, dll), Aksi diakonia (kunjungan dan bantuan dana untuk orang sakit, bencana alam, panti jompo dan sejenisnya) dan selanjutnya mendapatkan pengalaman rohani dan bersaksi.

Apakah kita yang adalah gereja sudah benar melakukan proses transformasi itu?
Inilah yang menjadi masalah. Tentunya gereja mengembangkan banyak cara dan para pelayan Tuhan digereja tentunya gereja memiliki peranan penting. Apakah gereja sudah menjadi tempat yang benar untuk bertansformasi? Apakah Gereja sudah memberikan kebutuhan rohani yang cukup agar proses transformasi rohani itu dapat terjadi dengan baik? Apakah gereja telah menjadi tempat untuk melakukan Rehabilitasi Rohani/bertobat? Dan seterusnya. (kalau dalam proses transformasi genetic mungkin ini yang disebut kondisi operasi) Inilah yang perlu kita pikirkan.

Mungkin kalau kita ingin melihat indikator terjadinya transformasi itu adalah dari ketiga faktor diatas tadi: Persekutauan yang semakin baik, Pelayanan yang semakin baik dan kesaksian-kesaksian yang semakin menguatkan sebagai pengalaman rohani.
Persoalan selama ini adalah banyak jemaat kita yang belum benar-benar tertempel sudah diangap percaya dan dibaptis. Mungkin secara gereja organisasi ini sudah benar namun secara gereja rohani ini belum tentu. Karena senguhnya kita sedang dibentuk menjadi seorang imamat yang rajani, yaitu menjadi bait Allah, Roh Tuhan tinggal didalam kita.

Transformasi rohani adalah adanya proses dimana roh manusia bersekutu dengan Roh Tuhan didalam hati kita sehingga kita menjadi satu roh dengan Tuhan. Transformasi ini mengakibatkan kita mengalami perubahan didalam jiwa (pikiran, emosi, semangat) dan perbuatan/tubuh (tingkah laku) oleh karena keinginan dosa kita menjadi lemah (recessive) atau telah dikalahkan oleh keinginan roh (dominant).

Demikian dahulu apa yang saya sampaikan ini bukanlah sebuah kemutlakan, namun mengambil logika berpikir manusia untuk menerangkan proses transformasi rohani. Tuhan yang menolong kita.


Transformasi Rohani (Pendahuluan)

Menurut defenisi arti (Bahasa Inggris): transformation is a complete change, usually into something with an improved appearance or usefulness.

Transpormasi artinya adalah sebuah perubahan yang diakibatkan adanya sebuah stimulan yang mempengaruhi secara permanen sehingga menghasilkan sebuah perubahan yang tampak.

Dalam ilmu genetika teknik (genetic engineering) , transformation adalah suatu proses menambahkan sebuah sifat baru (gen baru) kepada suatu rangkaian gen induk sebuah sell sehingga sel itu memiliki fungsi/sifat yang baru. Contoh hasil proses ini yang dapat dilihat secara kasak mata seperti tikus yang memiliki gen pembawa sifat ekor panjang ditransformasi menjadi tikus berekor pendek.

Jika kita analogikan maka transformasi rohani adalah adanya sesuatu Roh pembawa sifat Tuhan kepada roh manusia. Roh pembawa sifat Tuhan dalam arti Tuhan di dalam Yesus Kristus, yang memiliki sifat rohani yang penuh dengan buah-buah rohani, contohnya, penuh kasih hingga mengasihi musuh sekalipun bahkan rela mati demi dosa manusia.

Roh itu adalah Roh Tuhan (baca gen/pembawa sifat Tuhan) yang ditempelkan kepada roh manusia (sifat manusia), sehingga menghasilkan pembawa sifat yang baru yang dikenal dengan buah-buah rohani. Interaksi roh-Roh, (roh: baca roh manusia; Roh: baca Roh Tuhan) didalam kehidupan seorang manusia, yang bekerja dihatinya, sehingga mengubah cara berpikirnya dan tingkah lakunya menjadi sifat Tuhan di dalam Yesus Kristus.

Manusia pada dasarnya membawa sifat/gen dosa, namun sejak Roh-roh itu berinteraksi didalamhati seorang manusia, maka keinginan dosa ini dapat dikalahkan, karena Roh itu akan mempengaruhi jiwa dan tubuhnya (dagingnya). Keinginan jiwa dan daging dikalahkan oleh keinginan roh.

Transformasi rohani sangat memungkinkan di fahami secara logika saintifik, setelah ditemukannya berbagai teknologi transplantasi, hingga transplantasi genetik belakangan ini yang mengakibatkan terjadinya transformasi pembawa sifat . Namun sesunguhnya transformasi rohani, jauh lebih tua dibandingkan pemahaman ilmu pengetahuan tersebut, karena Tuhan terus melakukan proses transformasi rohani kepada kita didalam Roh Yesus Kristus.

Tuhan yang menolong kita,

Salam dari Taiwan,

Bode Haryanto Tarigan.

Wednesday, February 25, 2009

Prosedur Rohani

This is my own dear Son, listen to him. (Mark 9:7)

Khotbah Rev.Dr. Augustine di TICC, membahas posedure ilmiah yang digunakan para ilmuan untuk memahami eksistensi Tuhan. Seperti apa yang di tulis oleh Richard Dawkins dalam bukunya GOD Delusion. Mereka menggunakan pendekatan ilmiah untuk membuktikan eksistensi Tuhan. Mereka membuat prosedure sendiri untuk membuktikan eksistensi Tuhan. Akhirnya mereka tidak menemukanNya, karena mereka salah memilih prosedurnya.

Tuhan telah menentukan prosedurenya sendiri, yaitu hanya melalu Yesus Kristus, manusia dapat mengenal dan mengakui eksistensi Tuhan (Yahweh). This is my own dear Son, listen to him. (Mark 9:7). Tuhan sendiri menyatakan hal itu, hanya satu prosedur untuk dapat mengenal aku lebih dan lebih lagi, yaitu melalui anakKu.

Mereka/ilmuan itu tidak akan pernah sadar bahwa ketika mereka menemukan sesuatu yang baru misalnya seperti teknologi genetika, bahwa sesunguhnya mereka sedang menemukan sebuah rahasia ciptaan Tuhan. Mereka menemukan namun Tuhan telah menciptakan itu semua adalah baik jauh sebelum mereka menemukannya.

Mereka seolah menemukan sebuah kebenaran ilmu pengetahuan, padahal sisi lain mereka tidak sadar bahwa kebenaranlah yang telah menemukan mereka. Karena semua itu telah ada dan benar, sedangkan mereka yang mencari cari kebenaran yang ada itu dan baru saja menemukannya.

Jika kita analogikakan dengan kebenaran Tuhan, maka mereka terus mencari melalui prosedur logika mereka, mereka mencar kebenaran Tuhan, dan mereka tidak menemukan dan salah dalam mengambil kesimpulan. Karena prosedur dan logika rohani itu adalah kebenaran Tuhan yang hanya di dalam Yesus Kristus.

............ ......... .... bersambung.

Tuhan yang menolong

Bro. Bode Haryanto Tarigan
Tainan Taiwan

Thursday, December 18, 2008

Berpikir Positif Selalu (sebuah pengalaman pribadi)


(dengan cara menyerahkan segala perkara kepada Tuhan didalam doa kita)
Saudara didalam nama Yesus: Bode Haryanto Tarigan
Dari sebuah rumah kontrakan di sekitar komuter UKM Bangi, Malaysia

Ini adalah sebuah pengalaman untuk selalu berpikir positif. Pengalaman ini juga akan menuai arti betapa pentingnya menyerahkan setiap hari kita didalam doa kepada Tuhan. Dengan doa kita masuk kedalam rencana Tuhan yang panjang yang pada saat ini (2008) baru saya sadari bahwa semua itu adalah baik.

Ada beberapa hal yang harus kita ingat dan lakukan di dalam hidup kita sebagai orang percaya:
1. Kita seharusnya menyerahkan sepenuhnya hari-hari kita kepada Tuhan. Didalam doa pagi hari kita katakanlah: Ya Tuhan kuserahkan hari ini sepenuhnya kedalam tanganMu, berkatilah aku hari ini, jadikanlah semua baik sesuai dengan kehendakMU. Amin
2. Kita menginginkan sesuatu. Kita harus berusaha mendapatkannya dengan mengikuti aturan main yang telah ditentukan. Kita telah siap sedia menerima segala konsekwensinya, dan kita tak lupa mendoakannya agar menjadi pantas untuk mendapatkannya.
3. Kita harus sadar bahwa kita senantiasa mengalami pasang surut dalam hubungan kita dengan Tuhan. Contohnya adalah mungkin pelayanan kita kepada Tuhan ditengah gereja sedang surut. Mungkin juga dan banyak kesalahan yang tidak pantas kita lakukan sebagai orang percaya seperti mendongkol, bermalas-malas, cengeng, tidak focus dalam belajar, bersungut-sungut/kekanak-kanakan, angap enteng dan sebagainya, sehingga kadang kala, pada saat yang sudah sangat mendesak baru menyadari dan berpaling kepada Tuhan.

Pengalaman ini dimulai setamat S2 dari ITB tahun 2000. Saya kembali ke USU, lalu diserahi tugas mengajar Matematika Teknik Kimia I dan Operasi teknik kimia 2. Pelajaran ini termasuk sulit karena pembahasannya hingga tahap aplikasi matematika atau matematika terapan khususnya kepada bidang keahlian teknik kimia. Sebagai seorang staf pengajar baru itu merupakan tugas yang cukup berat. Disisi lain mata kuliah yang saya kuasai dan usulkan mengajarkannya ternyata juga tidak di setujui. Dalam sebuah rapat, saya sempat menyampaikan protes kepada ketua departemen waktu itu, karena saya merasa tugas ini lumayan berat dan akan sangat menyita waktu untuk mempersiapkannya. Namun protes saya tidak ditanggapi dan saya tentunya merasa sangat jengkel. Dengan penuh kekecewaan dan dongkol saya harus menerima tugas itu.

Untuk mempersiapkan pelajaran ini, berhari-hari saya harus mengurung diri, untuk membaca banyak buka dari buku Righ, Jason-Jeffery, Rice and Do hingga beberapa buku berbahasa Indonesia, dan juga persiapan membuat slide dan seterusnya. Kerja keras dan kedongkolan berjalan bersama-sama sehingga tugas ini semakin berat saja. Walaupun Sebagai seorang percaya saya selalu berdoa dan minta Tuhan memimpin hidup ini sehari-hari, toh kenapa saya harus mendapat beban seberat ini. Saat itu saya belum mengerti apa rencana Tuhan.

Saat mengajar pertama, semua dilakukan sambil terseok-seok, membuktikan rumus dipapan tulis kadang berulang-ulang karena tidak dapat selesai hingga akhir jam kuliah sebelumnya. Kadang kala waktu 2 jam tidak cukup sehingga saya menambah waktu sendiri, ditengah komplain mahasiswa yang mungkin merasa terpaksa harus duduk belajar lebih lama. Kecapeaan itu terasa lebih, padahal honor mengajar mata kuliah ini dibanding dengan matakuliah yang hanya membaca dan menerangkan seperti biologi adalah sama.

Huuuuuuuuhhh, keterlaluan, saya sangat menderita. Demikianlah yang terjadi, sekali lagi, beban itu semakin berat karena saya melakukannya dengan bersungut-sungut. Saya mengangap ketua departemen sangat tidak fair, memberi dua matakulia yang berat. Gilanya lagi, di semester berikutnya juga tidak berubah, matematika teknik kimia 2 dengan aplikasi numerik, ditambah pelajaran operasi teknik kimia 1 yang semua adalah menghitung dan menghitung. Saya kok dikerjai terus nih, kedongkolan terus meraja. Disisi lain saya tetap berdoa dan berharap Tuhan memberikan kepintaran untuk mempersiapkan semua itu. Saya belum sadar bahwa saya dibiarkan oleh Tuhan untuk diproses sedemikian rupa.

Demikianlah saya melakukan semua itu, karena bersifat matematis semua pelajaran itu terasa semakin mudah saja dari tahun ketahun dan saya mulai menikmatinya. Dari permodelan, sistem pemodelan, aplikasi model teknik kimia berdimensi I, II dan III hingga aplikasi numerik dan sebagainya semua semakin nikmat saja. Kekesalan itu berubah menjadi kenikmatan. Saya merasa saat itu berhasil mengalahkan sebuah tantangan itu. Tapi saya tetap tidak mengerti apa rencana Tuhan akan hal itu.

Hingga tahun 2005 saya masih berangapan bahwa ketua departemen telah mempersulit hidup saya minimal dari 2001-2002. Entah apalah motivasi beliau apakah negative (ingin mengerjai saya) atau positif (ingin mentreatment saya agar lebih baik lagi) tapi yang pasti hal itu sempat membuat hidup saya sangat tidak nyaman.

Ketika mengambil S3 di Taiwan 2005, tantangan lain datang lagi. Pertama datang ke departemen teknik kimia di NCKU Tainan, semua masih tertulis dalam bahasa China-mandarin. Semester 1 dan 2 tahun 2005/2006, semua informasi hingga pengajaran di kelas masih berbahasa mandarin. Rasanya seperti tertipu, mereka menawarkan menerima student international namun kenyataanya mereka belum siap. Saya adalah satu-satunya mahasiswa doktor internasional di departemen teknik kimia. Yang pasti, saya tidak punya kawan untuk bertanya dan berdiskusi, semua harus dikerjakan sendiri. Satu-satunya kawan S3 dari Indonesia ada di jurusan Teknik Elektro, yang tentunya tidak memiliki hubungan dengan teknik kimia. Banyak masalah yang dihadapi di universitas ini, dari janji bantuan dana hingga mendapatkan pembimbing (advisor), awalnya semuanya tidak jelas. Tapi saya berusaha terus bertahan. Hanya satu yang saya pegang, mengapa Tuhan membiarkan saya ada disini. Didalam doa setiap pagi saya menyerahkan hari-hari ini kepada Tuhan, pasti semuanya ada dalam rencana Tuhan, itulah keyakinan saya. Saya tidak melakukan protes, saya tidak memberontak, saya hanya meminta Tuhan membantu dalam setiap perkara yang dihadapi saat itu.

Tuhan menguatkan hati saya dengan memberi pengertian untuk tetap berpikiran positif dan optimis. Saat itu sesungguhnya bekal untuk memberontak dan mengarahkan kekeinginan negative adalah sangat besar. Keinginan untuk meningalkan saja program S3 ini yang begitu rumit pernah muncul dalam pikiran ini. Dapat anda bayangkan, saat itu, untuk bersekolah, saya harus berpisah dengan istri yang sedang sekolah DBA (S3) di Malaysia. Sementara si Avenia, anak kami waktu itu harus dititipkan dengan orang tua di Indonesia. Sampai di Taiwan, saya menemukan banyak perkara yang tidak jelas dan rasanya seperti sulit untuk dilewati, seperti yang diterangkan pada paragraph di atas. Namun sekali lagi, Tuhan tetap menguatkan hati saya.

Saya baru merasakan manfaatnya telah digodok selama 3 tahun untuk memahami matematika teknik kimia ketika saya harus belajar sendiri pada tahun pertama (semester I dan II) belajar di Taiwan, semua masih berbahasa mandarin. Dengan pengetahuan nol bahasa mandarin maka otomatis saya harus belajar sendiri dari text book. Dengan bermodalkan pengalaman itu saya akhirnya dapat menyelesaikan seluruh 8 matakuliah dengan baik.

Saat ini saya sadar, bahwa Tuhan pada tahun 2001-2003 secara langsung atau tidak langsung melalui ketua departemen teknik kimia USU membiarkan saya diolah/di treatment sedemikian rupa sehingga saya dapat mengembangkan wawasan dengan mempelajari matematika teknik. Hal itu juga ternyata agar membuat saya tetap konsisten untuk belajar secara mandiri, karena ternyata pada tahun 2005-2007, saya harus menghadapi masalah yang sama yaitu harus belajar secara mandiri di tanah Taiwan itu.

Entah apapun motivasi ketua departemen pada saat itu mungkin positif atau negative, yang pasti apa yang telah dia lakukan itu membuahkan hasil yang dapat memudahkan menyelesaikan masalah saya di saat memerlukannya. Saya belum menanyakan kembali kepada ketua departemen apa sesunguhnya motivasinya, namun saya rasa itu tidak penting. Yang penting adalah sebagai seorang percaya saya telah melakukan suatu kesalahan. Setiap pagi saya berdoa kepada Tuhan dan menyerahkan hari-hari saya sesuai dengan kehendakNya, namun saya belum sangup menerima tantangan itu dengan iklas sehingga ada saja keinginan untuk memberontak dan mendongkol yang sesunguhnya tidak perlu karena kita telah menyerahkannya kepada Tuhan.

Ini adalah sebuah pengalaman juga buat kita, bahwa didalam Tuhan sesunguhnya kita telah sedang dipersiapkanNya. Dimanapun kita bekerja, ingatlah untuk menyerahkan hari-hari kita kepada Tuhan, dan cobalah rela menerima beban yang kita terima didalam tugas kita walaupun itu lebih sulit dibandingkan dengan sejawat kita, karena ternyata Tuhan sedang mempersiapkan kita untuk tetap menjadi pemenang di tantangan yang lebih berat di masa yang akan datang. Benarlah bahwa di dalam Tuhan semua itu akan indah pada waktunya.

Pengalaman ini juga mengajak kita agar tetap setia dan patuh di dalam Tuhan sehingga tidak mudah dongkol dan bersungut-sungut. Di dalam Tuhan kita semakin bertanggung jawab akan pekerjaan kita. Di dalam Tuhan ternyata kita semakin kuat dan tegar, karena mata rohani kita menghibur jiwa kita, sehingga kita dapat bersyukur di dalam permasalahan yang kita hadapi.
Buat Ibu ketua (2000-2003) yang sengaja atau tidak sengaja membaca tulisan ini, saya ucapkan terima kasih banyak, semoga Tuhan merahmati kita semua

Mukjizat Tuhan (Didalam Tuhan tidak ada yang mustahil)

Saudara didalam nama Yesus: Bode Haryanto Tarigan
UKM Bangi, Malaysia

Mukjizat adalah sesuatu hal yang hampir mustahil menurut akal manusia namun karena sesuatu kekuatan maka hal itu dapat terjadi. Membangkitkan Lazarus dari kematian adalah sesuatu yang mustahil bagi manusia namun hal itu terjadi oleh Yesus. Mukjizat Tuhan dibuatkan agar orang-orang yang percaya semakin dikuatkan.

Dimasa ini tentunya mukjizat Tuhan bekerja secara pribadi lepas pribadi kepada orang yang mengharapkannya. Mukjizat Tuhan adalah sebuah fenomena diluar akal manusia. Fenomena mukjizat Tuhan dapat terjadi disaat seseorang sudah habis akal karena seseorang telah mengangap apa yang telah ia upayakan telah mencapai titik maksimum sehingga menghasilkan sebuah kondisi yang kita sebut saja sebuah kepasrahan (bukan putus asa) dalam arti positif yaitu berjuang terus dan tak lupa berdoa.

Sebuah Mukjizat yang saya alami di sekitar oktober 2008. Ini adalah sebuah fenomena yang menurut pengalaman rohani saya merupakan sebuah mukjizat Tuhan. Sebagai pelaku, saya merasa sudah habis akal dan hanya berpasrah sepenuhnya kepada Tuhan akan hasilnya. Apalagi ini menyangkut masa depan, saya merasakan Tuhan membantu menyelamatkan umur, masa depan, karir bahkan harga diri.
Ringkas kata, kejadian ini terjadi pada saat ini dimana saya sedang mengikuti pendidikan doktor di NCKU Taiwan. Untuk mendapatkan predikat PhD candidate diwajibkan harus lulus ujian kualifikasi maksimum 6 kali ujian dalam kurun waktu 3 tahun. Jika tidak lulus maka mahasiswa tersebut secara otomatis akan ter droop out. Saya sudah mengikuti 5 kali ujian kualifikasi doktor namun tidak satupun mata kuliah pun yang lulus hingga Pebruari 2008. Kesempatan terakhir adalah ujian ke 6 dibulan September 2008. Dapatkah anda bayangkan bagaimana tekanan yang saya alami, bagaimana saya hampir putus asa menghadapi semua itu. Tekanan dari pembimbing karena telah habisnya kepercayaan beliau kepada saya. Tekanan dari lingkungan, tekanan yang seolah-olah menuduh saya bodoh dan gagal, serta dari perasaan sendiri, semua bersatu untuk menghancurkan saya saat itu.
Bagaiman saya dapat mengalahkannya serta diubahkan dan dikuatkan didalam kepasrahan menghadapi kenyataan tersebut, hingga saya berpaling dan menemukan bahwa di dalam Tuhan tidak ada yang mustahil. Bagaimana semua itu dapat menjadi kenyataan, saya dapat lulus dua matakuliah sekaligus dengan nilai yang cukup luarbiasa. Kekuatan apa yang telah membimbing saya? Mukjizat Tuhan itu adalah bagaimana mungkin dapat lulus 2 mata kuliah sekaligus sedangkan selama ini untuk lulus satu pun tidak mampu. Untuk lebih lengkap dapat di baca kesaksian di bawah ini.
Di tempat saya kuliah S3 di teknik kimia NCKU Tainan Taiwan, berlaku model pendidikan di Amerika (US). Mahasiswa S3 wajib mengikuti minimal 6 matakulaih (18 SKS), lalu harus lulus ujian kualifikasi doktor (PhD candidate) dan wajib mempublikasi minimal 2 buah tulisan ke jurnal internasional dan terakhir membuat thesis doktor. Kesempatan ujian PhD candidate adalah 6 kali dalam kurun tiga tahun pertama. Ujian ini mewajibkan lulus 2 matakuliah, bagi sebagian mahasiswa untuk lulus ujian ini tidaklah sulit namun bagi sebagaian lain adalah cukup sulit. Rata-rata student mampu meluluskan 2 matakulaih kualifikasi setelah menempuh ujian 3 hingga 4 kali.

Ujian kualifikasi doktor adalah sebuah langkah yang harus dilewati, dimana jika pada tahun ketiga seorang mahasiswa tidak dapat lulus, maka dia secara otomatis akan ter drop out dari departemen Teknik Kimia NCKU. Dalam hal ujian kualifikasi doktor hingga kesempatan kelima saya belum berhasil lulus satu matakuliah kualifikasi sama sekali. Tahun pertama focus saya terlalu banyak bagaimana untuk menyelesaikan matakuliah segera. Hal ini sangat penting saat itu karena nilai dari ujian matakuliah sangat berpengaruh terhadap bantuan dana yang disediakan NCKU yang merupakan reward dari hasil belajar kita. Selain itu, kami diwajibkan untuk melakukan eksperiment sejak semester pertama mengikuti proyek dan bidang keahlian pembimbing/advisor.

Hingga ujian ke 4 Ujian kualifikasi doktor tidak satupun yang lulus, namun satu matakuliah bernilai 86 sesunguhnya hampir lulus karena nilai kelulusan adalah 90 (dari total nilai maksimum 150). Saya mengajukan permohonan ke komite penilai, dengan harapan mereka mau meluluskan dengan membantu nilai yang saya peroleh tersebut. Namun hasilnya adalah bahwa keputusan telah final dan tidak boleh digangu gugat. Saat itu saya mulai mengerutu seola-olah mereka tidak memiliki kekurangan. Padahal di tahun 2005 kedatangan saya pertama, mereka sama sekali belum siap. Semua masih dalam kondisi serba China dan China. Jiwa saya sedikit terusik, kemungkinan lulus sudah semakin kecil dan sulit. Saya merasa sudah mempersiapkannya dan belajar dengan baik. Semua itu membuat hati ini semakin kecut bahwa disini di teknik kimia NCKU menerapkan sistem kemampaun murni.
Beberapa kawan yang memberikan nasehat mengatakan saya kurang pendekatan kepada profesor-profesor di sana. Tetapi mereka salah, karena saya tidak pernah memiliki kesulitan untuk berinteraksi dengan siapa saja. Sebagian profesor disana adalah teman saya dalam bermain tenis meja, studi tour bersama dan seminar bersama. Kami saling sapa dan berdiskusi dalam berbagai kesempatan. Tapi demikianlah kenyataanya, ini adalah sebuah pelajaran sangat berharga bagi saya, persahabatan dan keramah-tamahan tidak boleh mempengaruhi profesionalisme, idealisme dan objektifitas. Padahal apa yang saya alami dan lihat di Indonesia bahkan sekaliber PTN ternama tidak terlepas dari perkoncoan (KKN) yang kental. Mental ilmuan yang seharusnya idealis jika sampai di Indonesia banyak berubah menjadi conditional dan untuk memenuhi target politik.

Ujian ke 5, saya memperoleh nilai ujian yang lebih parah satu bernilai 66/150 dan satu lagi 57/150, semakin jauh dari nilai kelulusan 90/150. Saat itu, saya tidak mau lagi melakukan protes, saya hanya berdiam diri merenungkan nasib, serta mencari alternative yang mungkin segera saya lakukan. Saat itu saya telah berancang-ancang akan pindah ke universitas lain di Taiwan atau kembali dulu ke USU dan melanjutkannya disana. Hasil renungan itu, saya diskusikan ke advisor, saat itu advisor saya sudah menawarkan dua pilihan: 1. Mengundurkan diri sekarang. Atau 2. Tetap di sini hingga enam bulan terakhir dengan focus pada eksperimen yang akan dilanjutkan nanti di USU dan juga sekalian tetap mengambil kesempatan ke 6. Waktu itu saya memutuskan mengambil pilihan kedua dengan focus riset untuk dilanjukan di USU jika droop out.

Saya sudah melaporkan kepada orang tua di Indonesia dan istri bahwa saya sudah menyerah. Syukurnya mereka dapat menerima dengan tenang dan bahkan istri saya sama sekali tidak mempermasalahkannya. Ternyata, dalam pikiran istri saya berharap agar dapat segera mendampinginya dan membawa bersama anak-anak dari Medan ke Malaysia di tempat dia sedang menimba ilmu akutansi (DBA) saat ini. Saya sendiri juga tidak lagi mempersoalkan hal ini, kegagalan itu sepertinya sudah tinggal menunggu waktu. Walaupun ilmu saya sudah semakin bertambah namun kegagalan membawa gelar adalah kegagalan yang sesunguhnya.

Saya pernah berpikir bahwa Tuhan sungguh kejam. Saya merasa semuanya sia-sia, 3 tahun berpisah dengan keluarga, tiga tahun usia terbuang, tiga tahun karir terhambat, Tuhan sungguh kejam. Disisi lain, saya merasa tidak melakukan kesalahan apa-apa, saya merasa berada di dalam sistem Tuhan selama ini. Saya tidak melakukan perbuatan perzinahan walaupun harus jauh dari istri dan sekitar saya, mahasiswa-mahasiswi melakukan aktifitas free sex. Saya tetap aktif melayani di gereja TICC walaupun hanya sebagai anggota biasa (2005-2007). Saya rajin menulis kesaksian rohani dan juga rajin merangkum khotbah di TICC dan mengirimkannya ke milis GBKP. Saya pernah berpikir saat inilah saya akan dipermalukan, lebih baik stop menulis kesaksian rohani dari pada kegagalan saya menjadi kesaksian yang negative bagi saudara-saudara di GBKP yang membacanya. Namun di dalam hati saya sesunguhnya jauh lebih takut putus hubungan dengan Tuhan daripada hanya sekedar droop out dari NCKU. Hal ini saya nyatakan pada kesempatan ini karena sudah begitu banyak tangan Tuhan menolong disepanjang hidup saya hingga saat ini.

Memulai awal semester ke-6 saya benar-benar menikmati hari-hari terakhir saya di Taiwan. Setiap hari eksperiment mempersiapkan basis penelitian yang akan dibawa ke USU. Pada saat bersamaan di awal semester itu, dilakukan pemilihan kommite di sidang jemaat gereja TICC. Mereka memilih saya sebagai salah satu anggota komite gereja, dan saya terima saja. Saya hanya berpikir, ya biarlah sekalian menambah pengalaman bergereja. Selain itu saya pernah berpikir bahwa Tuhan mungkin sedang menguji kesetiaan saya, mungkin selama ini terlalu sombong dan arogan, mungkin Tuhan marah karena saya banyak menulis mengenai MELIHAT TUHAN DARI SISI TUHAN YANG ADALAH ROH, mungkin dan mungkin.

Empat bulan terakhir sebelum musim ujian, kekuatan itu datang. jika selama ini saya berpikir ke arah yang lemah dan cendrung negatif, namun saat iti berubah ke arah yang kuat dan positif. Karena sering membahas alkitab maka kalimat DIHADAPAN TUHAN TIDAK ADA YANG MUSTAHIL selalu mengiang di telinga ini. Ahhhh biarlah habis-habisan, saya harus mencoba semaksimal mungkin, kalau harus gagal ya gagalah tapi harus tetap semangat karena di hadapan Tuhan tidak ada yang mustahil. Semagat itu datang sedemikian, dan keyakinan akan datangnya pertolongan Tuhan semakin besar. Kuasa Roh Kudus memberikan kekuatan yang sangat besar. Ada beberapa hal yang saya lakukan saat itu: 1. Belajar dengan tekun (bertanya dan berdiskusi dengan kawan-kawan taiwanis bahkan hingga mengingat rumus sambil berjoging di stadium NCKU, selain itu juga belajar online dari youtube) 2. Tetap bekerja di laboratorium (mempersiapkan basis riset) 3. Tetap melayani di TICC sebagai komite khusunya bagian bible study. 4. terus mengirim hasil khotbah dan bible study ke milis GBKP hingga 2 bulan menjelang ujian. Satu hal yang selalu saya sampaikan dan doakan Ya Tuhan, jika aku lulus atau gagal pun, aku berjanji untuk tetap melayani Mu dimanapun aku berada. Tolonglah anak Mu ya Tuhan.

Sejak itu saya selalu mengontak Bapak, mamak dan istri tercinta untuk mendoakan persiapan ini. Bapak selalu bilang Yahweh akan menolong saya, demikianlah keyakinan bapak. Mamak lebih fleksibel, lakukan yang terbaik namun kalau tidak sanggup jangan disesali. Istri selalu bilang mukjizat akan terjadi, abang tetaplah semangat belajar. Gereja TICC juga mendoakan setiap minggu dalam doa syafaat. Oh God, why is Bode here with us now. He needs You very much. Give him, Your blessing. Terkadang ingin menagis hati ini disaat pendeta dan saudar-saudari mendoakan saya, kenapa harus begini sulit Ya Tuhan, kenapa harus terjebak di dalam kondisi ini yang Tuhan, semua terserah kepada Mu ya Tuhan.

Walaupun harus melakukan semua aktifitas di atas, namun ketika belajar seperti ada yang mengajari, kepung bab ini, bom disini, sehingga seperti semua terfokus dan terarahkan. Saya merasa belajar menjadi lebih enak dan ternikmati. Salah satu pelajaran dari buku setebal 650 halaman habis terkepung. Pelajaran kedua setebal 900, halaman yang semua harus dikuasai, namun saya mengikuti hati nurani ke dalam pikiran yang menjadikan lebih mudah dan focus sehingga semuanya seperti lebih mudah. Saya memiliki keyakinan Tuhan selalu datang menolong sehingga ada perasaan pasrah dan berserah kepada Tuhan, mungkin hal itu yang membuat tekanan menjadi berkurang dan menjadi lebih focus belajar. Nothing to lose, mungkin istilah yang lebih tepat artinya dengan berserah pada Tuhan bahwa kita merasa masa depan kita terjamin, sehingga kita melakukannya dengan suka cita, selain itu saya memiliki keyakinan bahwa kalau saya harus gagal Tuhan telah mempersiapkan masa depan saya. Semuanya saya serahkan dalam Tuhan, biar Tuhan berkarya.

Hingga ujian tiba semua pelajaran telah terkuasai dengan baik. Beban mengikuti ujian semakin berkurang karena kepasrahan dan disisi lain kekuatan semakin besar karena keyakinan bahwa dihadapan Tuhan tidak ada yang mustahil itu, semakin membara dihati. Ujian yang berlangsung dua hari Kamis dan Jumat dapat dilewati dengan baik. Sepertinya kekuatan itu memberikan pengertian yang lebih saat itu. Semangat ternyata menjadi modal yang luar biasa didalam menghadapi ujian sekalibar kualifikasi doktor. Saya yakin Tuhan membantu saat itu.

Ujian biasanya diumumkan 3 minggu hingga sebulan setelah ujian. Pada bulan Oktober hasilnya pun di umumkan. Saya lulus dua matakuliah dan berhak mengunakan predikat PhD candidate. Hebatnya lagi nilai ujiannya juga tidak kalah tinggi yaitu 127/150 dan ujian kedua 99/150. Ini bukan angka yang bias bagi saya dari 66/150 pada ujian ke 5 menjadi 127/150 pada ujian saat itu (150 adalah total nilai maximum), dapatkah anda bayangkan bahwa saya telah menjawab dengan hampir sempurna. Saya mendapat 57/150 pada ujian ke 5 menjadi 99/150 pada saat itu. Betapa luar biasanya saya, kekuatan manakah yang telah membantu saya? Tidak disangka dan diduga, ternyata apa yang saya yakini telah menjadi kenyataan. Saya yakin ini adalah sebuah Mukjizat Tuhan bagi saya, yang telah mengubahkan yang selama ini tidak mungkin menjadi mungkin. Ajaib Tuhan karena didalam Tuhan tidak ada yang mustahil.

Salam dari seorang yang sedang bersuka cita,
Bode Haryanto Tarigan, ST (USU), MT (ITB), PhD candidate (NCKU).