INDAH HARI-HARI BERSAMA TUHAN

Mungkin ini adalah suatu cara yang diberikan Tuhan kepada saya untuk menyampaikan pengalaman dalam mengenal dan menikmati Tuhan.
Saya merasakan masih banyak sekali diantara kita yang sulit mengenal Tuhan secara riil, hal ini saya rasakan ketika kita melihat/mencoba melihat Tuhan dari sudut yang berada di luar Tuhan.
Pada Tulisan saya ini saya mengajak kita melihat Tuhan dari sudut Tuhan yang adalah Roh, melalui pemahaman lebih lagi akan Prinsip Roh itu sendiri.

Wednesday, March 18, 2009

Hal Pesembahan (komplain hal jenis 2 persembahan)

Saudara dalam nama Tuhan Yesus: Bode Haryanto Tarigan. Tainan Taiwan
Sebuah pembahasan di milis GBKP.
Ada sebuah pertanyaan. Ada seorang anggota jemaat, dia adalah seorang PNS golongan IVa, lalu dia juga punya sawit 50 Ha, Lalu dia juga punya konsultan. Dari gaji PNS dia dapat 3.5 jt/bulan, dari sawit dia 10 jt/bulan dari konsultan dipukul rata 7,5 jt sebulan. Lalu berapa dia harus memberi perpuluhan? Bagaimana dengan kerja rani (persembahan tahunan), dia harus bayar berapa?
Maksud pertanyan di atas adalah betapa sulitnya kita menakar uang masuk seseorang. Mungkin Istri kita pun banyak yang tidak tahu berapa uang masuk suami atau sebaliknya. Tapi yang pasti Tuhan tahu.

Untung saja gereja belum memberikan daftar isian (borang/form) yang menanyakan berapa gaji dan pendapatan kita, lalu menagihnya 10%, seperti pajak pendapatan misalnya yang sedang gencar di lakukan pemerintah RI saat ini. Mungkin gereja menjadi rusuh dan semakin banyak jemaat yang mempertanyakan sejauh mana gereja mengurus uang pribadi jemaat? Atau kenapa gereja membuat hidup jadi tidak nyaman? Gereja mata duitan dan seterusnya.
Rev John Crocker dalam kotbahnya di TICC mengambil contoh sebuah kehidupan gereja di Wales. Ia menyatakan ada seorang Pastor di Wales yang diangkat menjadi orang kudus bernama Saint David yang diperingati setiap 1 Maret di negeri Inggris sana. Pastor yang menerapkan hidup kebersamaan, tidak boleh menggunakan kata my (milik pribadi) dalam segala bentuk harta benda, semua adalah milik bersama. Apakah ini menjadi contoh yang baik bagi dalam gereja? ternyata belum tentu, mungkin mereka mengambil contoh dari kehidupan jemaat mula mula (Kis. para rasul 1) tetapi apakah itu format yang benar? Mereka sedang mencari bentuk model kehidupan bergerja hidup dalam persekutuan dan semua dipersembahkan untuk kepentingan jemaat yang juga adalah kepentingan gereja. Namun ini tidak menjadi hal yang mudah dan memerdekakan.
Sebagai orang percaya, tentunya kita percaya apa yang kita peroleh itu adalah berkat Tuhan. Seperti tanggapan/masukkan beberapa kawan kita, rasanya kita sudah mendapat, kenapa kita tidak mengembalikan sebahagian yang kita dapat sebagai ucapan syukur kita kepada Tuhan. Salurannya ada yang melalui gereja and ada yang secara langsung kepada orang yang memerlukan.

Di satu sisi, mungkin persoalannya kita tidak terlalu mau diatur, kita mau merdeka. Padahal menurut alkitab kemerdekaan itu hanya mungkin bila kita hidup didalam roh (hidup kudus dan memiliki hubungan secara khusus dengan Tuhan senantiasa). Roh yang memerdekakan. Persoalannya apakah semua jemaat senantiasa kembali ke roh? Hidup didalam roh adalah hidup dengan menunjukkan buah-buah roh itu. Maka seharusnya gereja tidak lagi sibuk ngurusi kekurangan keuangan karena semua otomatis sudah memberi dengan suka cita sebagi buah rohaninya.

Apakah kita sudah dengan suka cita memberi?
Pada dasarnya kita sedang diproses ke arah sana, namun teori dan praktenya tentulah tidak sama. Saya yakin sudah banyak anggota GBKP yang telah memberi dengan suka cita. Lalu bagaimana dengan yang belum?

Menurut pengalaman yang ada dan kita temui termasuk di GBKP, salah satu cara untuk dapat mengalami firman Tuhan (pengalaman rohani) adalah dengan memberikan perpuluhan dan satu lagi dengan menyeru nama Tuhan (Roma 10;13). Banyak orang bersaksi akan kedua hal itu: perpuluhan dan menyeru nama Tuhan. Kalau kita mau merasakan pengalaman rohani, ya memberikan perpuluhanlah dengan suka cita. pasti kita akan merasakannya. (lain kali kita bahas ini akan melebar).

Jika kita kaitkan dengan membreikan persembahan maka menurut saya, GBKP sesunguhnya sudah di merdekakan. Kalau dulu dengan berbagai nama amplop di antar ke rumah2 lagi, sekarang terserah kita, hanya diuletakkan didepan pintu gereja, mau memberi atau tidak tidak ada yang tahu karena boleh NN. Ini pengalaman di GBKP Simp Marindal saat ini.

Kita tidak dipaksa, dan jika memang sedang tidak punya uang, tidak perlu memberi (misalnya jika baru di PHK, sedang banyak pengeluaran anak-anak sekolah atau alasan lainnya). Tuhan lebih tahu semua itu. Namun tentunya kita punya cara untuk memberikan waktu dan tenaga kita untuk gereja, itu lebih baik ketimbang memaksakan diri memberikan perpuluhan, padahal memang sdg minus.

Sebuah kesaksian, seorang manager bank di Taiwan yang memiliki gaji jauh di atas rata-rata, dia selain memberi persembahan juga di hari libur datang kegereja melap kursi-kursi dan meja serta mengepel lantai. Itulah suka cita beliau. Walaupun ini agak langka, namun adalah cermin juga bahwa persembahan uang itu bukan segala galanya.Bagaimana dengan kita?

Hal kerja rani (persembahan tahunan) tentunya ada faktor tertentu, mungkin kita tidak tahu apa faktor itu, namun yang pasti bukan semata mengejar fresh money lah, kan itu hasil kesepakatan dan di doakan. Bisa saja itu proses-proses yang disiapkan oleh gereja agar kita lebih kasih dan peduli.

Karena tentunya Gereja GBKP (mungkin di gereja-gereja lain juga) masih banyak yang jemaatnya petani benaran, dan dia akan sangat bersuka cita bila di tawarkan bentuk persembahan yang bersifat tahunan atau kerja rani. Dan mereka mungkin akan memilih itu dibanding perpuluhan. Dan tentunya suka cita mingguannya dapat diberikan melalui kolekte.

Ya silahkan kita merasakan berkat yang kita peroleh dan silahkan belajar bersyukur mengenal berbagai bentuk persembahan dan memberikan dengan suka cita. Lebih baik tidak memberi dari pada bersungut-sungut. Tapi tentunya kita dapat belajar dari setiap yang kita lakukan untuk Tuhan, karena Tuhan memiliki cara sendiri untuk memberi orang-orang percaya berkat-berkatnya.

Berkatnya itu kadang yang kadang-kala kita lihat dari bentuk uang semata, padahal kita diberikan banyak hal, kesehatan, kesabaran, kemenangan dalam berbagai tantangan dan sebagainya.

Semoga kita lebih bijaksanalah melihat keputusan gereja, karena Roh mengajarkan kita melihat segala sesuatu secara positif. Dan biarkan Roh itu juga yang mengajarkan kita agar tulus seperti merpati dan cerdik seperti ular. Namun persembahan yang sejati adalah menyerahkan Tubuh, jiwa dan roh kita kepada Tuhan didalam penghidupan gereja.

Transformasi Rohani Saulus-Paulus (contoh khusus)

Saudara dalam namaNya : Bode Haryanto Tarigan, Tainan Taiwan


Ini adalah kelanjutan dari dua Tulisan sebelumnya.

Kita sering salah mengartikan siapa Saulus. Saulus adalah seorang manusia yang mencari hadirat Tuhan. Dari alkitab kita mendapatkan bahwa pada waktu itu Saulus menganggap cara dia itulah yang benar, dengan menyiksa dan membunuh pengikut Yesus, yang dia anggap mencemari keyakinan dia. Tuhan sendiri datang untuk memberikan pengenalan akan siapa sebenarnya Tuhan itu dan apa maunya Tuhan.

Secara prinsif Saulus telah menghidupkan rohnya, tetapi dia bersekutu dengan roh yang tidak dia kenal dengan benar, dia menempelkan rohnya dengan gen roh yang lain karena pada saat itu memang sangat sulit mengenal siapa dan apakah yang di maui Yahweh itu (Tuhan segala roh itu). Coba kita membaca perjanjian lama, coba kita pelajari Abraham, David, Salomo bahkan hingga Yohanes pembabtis masih salah dalam mengenal Bapa Yahweh itu.

Ketika Yesus bertemu dengan orang-orang Yahudi yang mengaku mereka adalah keturunan Abraham, tapi Yesus mengatakan bapa mu adalah iblis (Yoh 8:44). Artinya bahwa mereka telah tertipu dan mudah tertipu oleh roh-roh lain. Ini berlaku juga dengan agama-agaman atau kepercayaan lainnya, mudah tertipu oleh roh-roh lain itu. Saulus/Paulus adalah sebuah hal khusus, Tuhan mengultimatkan penempelan RohNya kepada Saulus, dengan cara sedemikian rupa. Tuhan membantu menganti rohnya menjadi roh-Roh Tuhan pada saat itu. Namun harus kita sadari bahwa Saulus adalah seorang yang senang tiasa mencari hadirat Tuhan dan Tuhan menemuinya.

Pernahkah kita bayangkan jika biksu-biksu Budha (yang pada digundul itu) yang terus-menerus mencari hadirat Tuhan, dan akhirnya didatangi oleh Roh Tuhan, mungkin kita akan sangat jauh ketingalan dengan mereka, karena mereka sebenarnya sedang menghidupkan rohnya dan berkontak dengan roh-roh lain itu.

Yang menjadi masalah adalah jika kita membandingkan dengan seorang yang mengaku kristen, tetapi asal telah kristen, asal telah bertuhan, asal telah dibaptis, saudara saudari seperti inilah yang menjadi batu sandungan di dalam kesaksian untuk menunjukkan pekerjaan Tuhan dan roh Tuhan di dalam manusia percaya.


Ada faktor yang penting yang menjadi kendala dalam mentranformasi Roh Tuhan kedalam hidup kita, Cobalah kita baca Lukas 8 : 11 - 18. Hal menabur benih.

Perlu kita ingat bahwa Firman Tuhan adalah Roh Tuhan, adalah makanan roh/rohani, sehingga perumpamaan tersebut mengambarkan juga bagaimana masalah atau kendala yang dihadapi dalam proses mentransformasi Roh itu kedalam hati manusia.

Dalam ayat itu mengatakan, bahwa bagaimana firman yang ditabur didalam hati itu dapat tumbuh. Artinya ketika kita didalam gereja sedang mengalami proses transformasi rohani seperti yang diumpamakan oleh Yesus dalam Lukas 8 tersebut. Apa-apa saja yang menjadi penghalang,

12. Yang jatuh di pinggir jalan itu ialah orang yang telah mendengarnya; kemudian datanglah Iblis lalu mengambil firman itu dari dalam hati mereka, supaya mereka jangan percaya dan diselamatkan

(iblis dengan sengaja mengambil firman itu dari dalam hati)

13 Yang jatuh di tanah yang berbatu-batu itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menerimanya dengan gembira, tetapi mereka itu tidak berakar, mereka percaya sebentar saja dan dalam masa pencobaan mereka murtad

(Mereka yang tidak hidup dalam persekutuan, sehingga ada masalah yang dihadapi langsung kalah/jatuh kedalam dosa)

14. Yang jatuh dalam semak duri ialah orang yang telah mendengar firman itu, dan dalam pertumbuhan selanjutnya mereka terhimpit oleh kekuatiran dan kekayaan dan kenikmatan hidup, sehingga mereka tidak menghasilkan buah yang matang.



(terhimpit masalah-masalah misalnya ekonomi dan mereka menjadi percaya tidak dengan mutlak, namun kondisional)

15. Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan."


(mereka yang senantias menjaga hubungannya dengan Tuhan, roh-Roh di dalam hatinya secara tekun, otomatis akan membuahkan buah-buah roh dan ketekunan)

Dalam proses transformasi ternyata ada beberapa hal yang sangat mempengaruhi, seperti keinginan iblis langsung, faktor persekutuan dan pembelajaran dan faktor lingkungan dan ekonomi.

Tuhan yang menolong.

Transformasi Rohani (Pembahasan)

Saudara dalam Yesus: Bode Haryanto Tarigan, Tainan Taiwan
Apa yang saya sampaikan ini adalah pengalaman dan pemahaman saya, kita boleh berbeda pendapat, dan tentunya dapat kita diskusikan. Tulisan di bawah adalah mengambil filosofi dari tranformasi dalam proses teknik genetik (engineering genetic).

Dan ini semua hanya sebuah analogi, kebenaran Mutlak itu adalah milik Tuhan.

Hal proses penempelan,
Saya lebih cendrung mengatakan penempelan sedemikian rupa ketimbang hanya terjadinya reaksi (bukan sekedar reaksi), karena roh-Roh itu benar-benar bersatu (menjadi satu roh). Dalam banyak hal alkitab PB mengajarkan hal satu roh, termasuk dalam pemberkatan sebuah pernikahan satu daging hanya dapat difahami di dalam roh di dalam satu roh.

Roh-roh itu benar-benar nempel. ini mengacu kepada prinsip Tuhan adalah Amin dan Amin. Dalam arti ketika manusia telah di transformasi secara rohani lalu ia berbuat dosa lagi maka roh-Roh itu tetap ada, tetapi kita sedang mengabaikan roh itu di dalam hati kita. Karena ketika kita sedang jatuh kedalam dosa pun Tuhan Yesus tetap mengetuk hati kita, agar kita membuka hati kita dan kembali kepada Roh itu. Ketika kita jatuh ke dalam dosa, rasul Paulus katakan" tubuh diserahkan kepada maut tapi roh (roh manusia) Tuhan pelihara". Tuhan memelihara roh-Roh itu karena Tuhan ya dan amin. Keleluasaan kita itu tentun memiliki batas juga yaitu jangan sampai kita menduakan Roh itu, misalnya dengan menyembah roh lain; menghujat roh kudus yaitu dosa yang tidak dapat diampuni (Mark 3 29).

Hal Mekanisme transfortasi rohani,
Saya jadi teringat pertanyaan Rev. Dr. Lauren dari Madagaskar, yang dalam khotbahnya di TICC menanyakan: "coba ingat, sejak kapan (umur berapa) kita pertama kali tertarik untuk datang ke gereja untuk mendengar firman Tuhan, bukan karena motivasi lain. Lalu sejak kapan kita mulai tertarik secara mandiri untuk membaca alkitab, dan kita mulai merasakan adanya sesuatu yang membuat kita semakin tertarik mendengar, membaca, kemudian berdiskusi dan bersaksi (pengalaman rohani) akan pengalaman kehidupan kita didalam Tuhan?

Waktu itu kami diberi kesempatan merenung diam selama 3 menit, kemudia dipersilahkan menjawab satu persatu dan hampir semua jawabnnya berbeda. Hanya dua orang yang menjawab hampir sama, Rev. Dr. Augustine dan Sis. Meiling karena kebetulan kedua bapak mereka adalah pendeta.

Padahal seharusnya kan sama. Kenapa berbeda?

Mekanisme atau proses terjadinya transformasi genetik rohani, seharusnya telah sempurna saat kita sedang mengaku percaya lalu dibaptis, lalu dimateraikan tanda miliknya lalu menjadi satu roh dengan Tuhan.

Proses ini hampir tidak mungkin hanya berlangsung selama kita belajar naik sidi/ngawan (kami dulu 3 bulan, sekarang 6 bulan), proses transformasi ini seharusnya sudah berlangsung sejak kita diserahkan kegereja (bayi), proses itu berlanjut kita sekolah minggu, remaja dan akhirnya belajar ngawan. Belajar ngawan hanya sebagai sebuah persiapan seremonial saja menuju ke pengakuan percaya dan dibabtis, serta dimateraikan menjadi milik Tuhan dan satu roh dengan Tuhan secara sempurna.

Namun apakah proses sebelumnya hingga kita ngawan itu telah membuat kita benar-benar percaya dan mengalami tertransformasi? Pengalaman saya, menjawab. Belum.

Dalam beberapa Tulisan kita coba diingatkan bahwa, kita memerlukan pelayan Tuhan yang tangguh, karena pekerjaan ini sangat prinsif dan penting dalam membentuk proses ke arah transformasi rohani. Kita memerlulkan guru-guru KA/KR, Pt Dk dan Pendeta yang tangguh. Dan tentunya juga sebagai orang tua yang tangguh di dalam Tuhan.

Mekanisme tranformasi
Menurut Alkitab manusia terdiri dari roh, tubuh dan jiwa yang merupakan suatu kesatuan yang saling berhubungan (interkonektif) dan masing-masing memiliki fungsi. Fungsi roh adalah untuk berkontak dengan roh (bukan hanya roh Tuhan saja, roh-roh lain juga). Ateis dapat kita nyatakan kelompok orang yang tidak mengaktifkan rohnya. Artinya dapat dianalogkan spt manusia yang punya tangan tapi tidak pernah dipergunakan.

Manusia yang percaya kepada adanya kekuatan supranatural adalah manusia yang mengaktifkan/ menghidupkan rohnya, dan menggunakan roh itu untuk berhubungan dengan roh-roh itu. Semua agama dan kepercayaan melakukan hal itu termasuk kelompok samawi: yahudi, kristen dan islam.

Tetapi didalam kekeristenan, ternyata proses interaksi roh-roh itu dapat difahami lebih mudah dan dengan sempurna. Semua itu karena dalam kekristenan kita memiliki Yesus yang adalah manusia dan Tuhan yang sempurna. Bersyukurlah kita mengenal Yesus. Saya berani mengatakan pengenalan kita akan Roh Tuhan (Yahweh) jauh lebih sempurna di dalam Yesus, ketimbang pengenalan Budha sendiri dan nabi lainnya akan Tuhan yang sesunguhnya itu, karena:
1. Di dalam Yesus kita dapat mengenal Yahweh, karena rahasia Bapak ada didalam Anak yaitu Yesus Kristus. Yesus mengatakan Aku dan Bapa adalah satu.
2. Ada suara dari langit yang berseru inilah anakKu yang Ku Kasihi:( Yahweh memperkenalkan/ merekomendasikan Yesus).
3. Yesus mengatakan sebelum Ia naik ke surga: jangan takut akan datang Roh penolong yaitu Roh Kudus (Yesus memperkenalkan/ merekomendasikan Roh Kudus).
Maksudnya adalah dalam kita diproses untuk mengenal Tuhan secara rohani kita sudah mengenal ROH itu, dan kita tidak akan salah lagi. Artinya kita sudah mengenal Gen pembawa sifat/Gen Tuhan itu dengan benar (Roh yang benar). Berarti:
1. Kita sudah benar tidak akan salah memilih Roh/Gen yang mana yang akan kita tempelkan.
2. Dalam proses penempelan itu kita di tolong oleh Roh itu sendiri yaitu Roh Kudus yang telah direkomendasikan oleh Yesus sendiri. (kalau saya pribadi, iman saya mengatakan Yesus dan Roh Kudus adalah satu. Tentunya Yesus tidak ingin membuat murid2nya binggung, dengan mengatakan, jangan takut, saya akan berubah jadi Roh Kudus. Coba baca Mark 9: 9-10, Yesus mengatakan kepada Petrus, Yakobus, Yohanes bahwa ANAK MANUSIA BANGKIT DIANTARA ORANG MATI, murid-murid kebingunan dengan pernyataan Yesus tersebut. Apalagi Yesus mengatakan akan menjadi Roh Kudus, mungkin mereka akan semakin binggung, walaupun akhirnya mereka menyadari juga hal itu.)
3. Medianya adalah Gereja yaitu organisasi rohani yang dirancang oleh Tuhan sendiri. Gereja yang adalah kumpulan manusia-manusia rohani (kaum kudus) yang akan saling membantu memberikan pengetahuan akan Roh itu, kemuliaan dan kasih itu melalui apa yang kita kenal dengan kegiatan koinonia/bersekutu diakonia/melayani dan marturia/bersaksi. Proses pembelajaran didalam persekutuan (PA/bible study, PJJ, Retreat, kebaktian keluarga, dll), Aksi diakonia (kunjungan dan bantuan dana untuk orang sakit, bencana alam, panti jompo dan sejenisnya) dan selanjutnya mendapatkan pengalaman rohani dan bersaksi.

Apakah kita yang adalah gereja sudah benar melakukan proses transformasi itu?
Inilah yang menjadi masalah. Tentunya gereja mengembangkan banyak cara dan para pelayan Tuhan digereja tentunya gereja memiliki peranan penting. Apakah gereja sudah menjadi tempat yang benar untuk bertansformasi? Apakah Gereja sudah memberikan kebutuhan rohani yang cukup agar proses transformasi rohani itu dapat terjadi dengan baik? Apakah gereja telah menjadi tempat untuk melakukan Rehabilitasi Rohani/bertobat? Dan seterusnya. (kalau dalam proses transformasi genetic mungkin ini yang disebut kondisi operasi) Inilah yang perlu kita pikirkan.

Mungkin kalau kita ingin melihat indikator terjadinya transformasi itu adalah dari ketiga faktor diatas tadi: Persekutauan yang semakin baik, Pelayanan yang semakin baik dan kesaksian-kesaksian yang semakin menguatkan sebagai pengalaman rohani.
Persoalan selama ini adalah banyak jemaat kita yang belum benar-benar tertempel sudah diangap percaya dan dibaptis. Mungkin secara gereja organisasi ini sudah benar namun secara gereja rohani ini belum tentu. Karena senguhnya kita sedang dibentuk menjadi seorang imamat yang rajani, yaitu menjadi bait Allah, Roh Tuhan tinggal didalam kita.

Transformasi rohani adalah adanya proses dimana roh manusia bersekutu dengan Roh Tuhan didalam hati kita sehingga kita menjadi satu roh dengan Tuhan. Transformasi ini mengakibatkan kita mengalami perubahan didalam jiwa (pikiran, emosi, semangat) dan perbuatan/tubuh (tingkah laku) oleh karena keinginan dosa kita menjadi lemah (recessive) atau telah dikalahkan oleh keinginan roh (dominant).

Demikian dahulu apa yang saya sampaikan ini bukanlah sebuah kemutlakan, namun mengambil logika berpikir manusia untuk menerangkan proses transformasi rohani. Tuhan yang menolong kita.


Transformasi Rohani (Pendahuluan)

Menurut defenisi arti (Bahasa Inggris): transformation is a complete change, usually into something with an improved appearance or usefulness.

Transpormasi artinya adalah sebuah perubahan yang diakibatkan adanya sebuah stimulan yang mempengaruhi secara permanen sehingga menghasilkan sebuah perubahan yang tampak.

Dalam ilmu genetika teknik (genetic engineering) , transformation adalah suatu proses menambahkan sebuah sifat baru (gen baru) kepada suatu rangkaian gen induk sebuah sell sehingga sel itu memiliki fungsi/sifat yang baru. Contoh hasil proses ini yang dapat dilihat secara kasak mata seperti tikus yang memiliki gen pembawa sifat ekor panjang ditransformasi menjadi tikus berekor pendek.

Jika kita analogikan maka transformasi rohani adalah adanya sesuatu Roh pembawa sifat Tuhan kepada roh manusia. Roh pembawa sifat Tuhan dalam arti Tuhan di dalam Yesus Kristus, yang memiliki sifat rohani yang penuh dengan buah-buah rohani, contohnya, penuh kasih hingga mengasihi musuh sekalipun bahkan rela mati demi dosa manusia.

Roh itu adalah Roh Tuhan (baca gen/pembawa sifat Tuhan) yang ditempelkan kepada roh manusia (sifat manusia), sehingga menghasilkan pembawa sifat yang baru yang dikenal dengan buah-buah rohani. Interaksi roh-Roh, (roh: baca roh manusia; Roh: baca Roh Tuhan) didalam kehidupan seorang manusia, yang bekerja dihatinya, sehingga mengubah cara berpikirnya dan tingkah lakunya menjadi sifat Tuhan di dalam Yesus Kristus.

Manusia pada dasarnya membawa sifat/gen dosa, namun sejak Roh-roh itu berinteraksi didalamhati seorang manusia, maka keinginan dosa ini dapat dikalahkan, karena Roh itu akan mempengaruhi jiwa dan tubuhnya (dagingnya). Keinginan jiwa dan daging dikalahkan oleh keinginan roh.

Transformasi rohani sangat memungkinkan di fahami secara logika saintifik, setelah ditemukannya berbagai teknologi transplantasi, hingga transplantasi genetik belakangan ini yang mengakibatkan terjadinya transformasi pembawa sifat . Namun sesunguhnya transformasi rohani, jauh lebih tua dibandingkan pemahaman ilmu pengetahuan tersebut, karena Tuhan terus melakukan proses transformasi rohani kepada kita didalam Roh Yesus Kristus.

Tuhan yang menolong kita,

Salam dari Taiwan,

Bode Haryanto Tarigan.