INDAH HARI-HARI BERSAMA TUHAN

Mungkin ini adalah suatu cara yang diberikan Tuhan kepada saya untuk menyampaikan pengalaman dalam mengenal dan menikmati Tuhan.
Saya merasakan masih banyak sekali diantara kita yang sulit mengenal Tuhan secara riil, hal ini saya rasakan ketika kita melihat/mencoba melihat Tuhan dari sudut yang berada di luar Tuhan.
Pada Tulisan saya ini saya mengajak kita melihat Tuhan dari sudut Tuhan yang adalah Roh, melalui pemahaman lebih lagi akan Prinsip Roh itu sendiri.

Wednesday, March 18, 2009

Hal Pesembahan (komplain hal jenis 2 persembahan)

Saudara dalam nama Tuhan Yesus: Bode Haryanto Tarigan. Tainan Taiwan
Sebuah pembahasan di milis GBKP.
Ada sebuah pertanyaan. Ada seorang anggota jemaat, dia adalah seorang PNS golongan IVa, lalu dia juga punya sawit 50 Ha, Lalu dia juga punya konsultan. Dari gaji PNS dia dapat 3.5 jt/bulan, dari sawit dia 10 jt/bulan dari konsultan dipukul rata 7,5 jt sebulan. Lalu berapa dia harus memberi perpuluhan? Bagaimana dengan kerja rani (persembahan tahunan), dia harus bayar berapa?
Maksud pertanyan di atas adalah betapa sulitnya kita menakar uang masuk seseorang. Mungkin Istri kita pun banyak yang tidak tahu berapa uang masuk suami atau sebaliknya. Tapi yang pasti Tuhan tahu.

Untung saja gereja belum memberikan daftar isian (borang/form) yang menanyakan berapa gaji dan pendapatan kita, lalu menagihnya 10%, seperti pajak pendapatan misalnya yang sedang gencar di lakukan pemerintah RI saat ini. Mungkin gereja menjadi rusuh dan semakin banyak jemaat yang mempertanyakan sejauh mana gereja mengurus uang pribadi jemaat? Atau kenapa gereja membuat hidup jadi tidak nyaman? Gereja mata duitan dan seterusnya.
Rev John Crocker dalam kotbahnya di TICC mengambil contoh sebuah kehidupan gereja di Wales. Ia menyatakan ada seorang Pastor di Wales yang diangkat menjadi orang kudus bernama Saint David yang diperingati setiap 1 Maret di negeri Inggris sana. Pastor yang menerapkan hidup kebersamaan, tidak boleh menggunakan kata my (milik pribadi) dalam segala bentuk harta benda, semua adalah milik bersama. Apakah ini menjadi contoh yang baik bagi dalam gereja? ternyata belum tentu, mungkin mereka mengambil contoh dari kehidupan jemaat mula mula (Kis. para rasul 1) tetapi apakah itu format yang benar? Mereka sedang mencari bentuk model kehidupan bergerja hidup dalam persekutuan dan semua dipersembahkan untuk kepentingan jemaat yang juga adalah kepentingan gereja. Namun ini tidak menjadi hal yang mudah dan memerdekakan.
Sebagai orang percaya, tentunya kita percaya apa yang kita peroleh itu adalah berkat Tuhan. Seperti tanggapan/masukkan beberapa kawan kita, rasanya kita sudah mendapat, kenapa kita tidak mengembalikan sebahagian yang kita dapat sebagai ucapan syukur kita kepada Tuhan. Salurannya ada yang melalui gereja and ada yang secara langsung kepada orang yang memerlukan.

Di satu sisi, mungkin persoalannya kita tidak terlalu mau diatur, kita mau merdeka. Padahal menurut alkitab kemerdekaan itu hanya mungkin bila kita hidup didalam roh (hidup kudus dan memiliki hubungan secara khusus dengan Tuhan senantiasa). Roh yang memerdekakan. Persoalannya apakah semua jemaat senantiasa kembali ke roh? Hidup didalam roh adalah hidup dengan menunjukkan buah-buah roh itu. Maka seharusnya gereja tidak lagi sibuk ngurusi kekurangan keuangan karena semua otomatis sudah memberi dengan suka cita sebagi buah rohaninya.

Apakah kita sudah dengan suka cita memberi?
Pada dasarnya kita sedang diproses ke arah sana, namun teori dan praktenya tentulah tidak sama. Saya yakin sudah banyak anggota GBKP yang telah memberi dengan suka cita. Lalu bagaimana dengan yang belum?

Menurut pengalaman yang ada dan kita temui termasuk di GBKP, salah satu cara untuk dapat mengalami firman Tuhan (pengalaman rohani) adalah dengan memberikan perpuluhan dan satu lagi dengan menyeru nama Tuhan (Roma 10;13). Banyak orang bersaksi akan kedua hal itu: perpuluhan dan menyeru nama Tuhan. Kalau kita mau merasakan pengalaman rohani, ya memberikan perpuluhanlah dengan suka cita. pasti kita akan merasakannya. (lain kali kita bahas ini akan melebar).

Jika kita kaitkan dengan membreikan persembahan maka menurut saya, GBKP sesunguhnya sudah di merdekakan. Kalau dulu dengan berbagai nama amplop di antar ke rumah2 lagi, sekarang terserah kita, hanya diuletakkan didepan pintu gereja, mau memberi atau tidak tidak ada yang tahu karena boleh NN. Ini pengalaman di GBKP Simp Marindal saat ini.

Kita tidak dipaksa, dan jika memang sedang tidak punya uang, tidak perlu memberi (misalnya jika baru di PHK, sedang banyak pengeluaran anak-anak sekolah atau alasan lainnya). Tuhan lebih tahu semua itu. Namun tentunya kita punya cara untuk memberikan waktu dan tenaga kita untuk gereja, itu lebih baik ketimbang memaksakan diri memberikan perpuluhan, padahal memang sdg minus.

Sebuah kesaksian, seorang manager bank di Taiwan yang memiliki gaji jauh di atas rata-rata, dia selain memberi persembahan juga di hari libur datang kegereja melap kursi-kursi dan meja serta mengepel lantai. Itulah suka cita beliau. Walaupun ini agak langka, namun adalah cermin juga bahwa persembahan uang itu bukan segala galanya.Bagaimana dengan kita?

Hal kerja rani (persembahan tahunan) tentunya ada faktor tertentu, mungkin kita tidak tahu apa faktor itu, namun yang pasti bukan semata mengejar fresh money lah, kan itu hasil kesepakatan dan di doakan. Bisa saja itu proses-proses yang disiapkan oleh gereja agar kita lebih kasih dan peduli.

Karena tentunya Gereja GBKP (mungkin di gereja-gereja lain juga) masih banyak yang jemaatnya petani benaran, dan dia akan sangat bersuka cita bila di tawarkan bentuk persembahan yang bersifat tahunan atau kerja rani. Dan mereka mungkin akan memilih itu dibanding perpuluhan. Dan tentunya suka cita mingguannya dapat diberikan melalui kolekte.

Ya silahkan kita merasakan berkat yang kita peroleh dan silahkan belajar bersyukur mengenal berbagai bentuk persembahan dan memberikan dengan suka cita. Lebih baik tidak memberi dari pada bersungut-sungut. Tapi tentunya kita dapat belajar dari setiap yang kita lakukan untuk Tuhan, karena Tuhan memiliki cara sendiri untuk memberi orang-orang percaya berkat-berkatnya.

Berkatnya itu kadang yang kadang-kala kita lihat dari bentuk uang semata, padahal kita diberikan banyak hal, kesehatan, kesabaran, kemenangan dalam berbagai tantangan dan sebagainya.

Semoga kita lebih bijaksanalah melihat keputusan gereja, karena Roh mengajarkan kita melihat segala sesuatu secara positif. Dan biarkan Roh itu juga yang mengajarkan kita agar tulus seperti merpati dan cerdik seperti ular. Namun persembahan yang sejati adalah menyerahkan Tubuh, jiwa dan roh kita kepada Tuhan didalam penghidupan gereja.

2 comments:

Unknown said...

Persembahan yang ikhlas dan tulus itulah persembahan yang akan mendatangkan berkat. Mengenai teknik persembahan tidak akan sama dalam setiap gereja, tapi dasar memberikan persembahan harus sama yaitu Tuhan Yesus. Bila persembahan lebih cendrung ditujukan untuk gereja dan bukan oleh karena Tuhan maka akan mendatangkan protes, persungutan, ketidak percayaan, dll.

Mengenai persepuluhan sudah jelas diatur oleh Allah (bukan gereja/manusia) sendiri sebagai hasil pertama dari penghasilanmu. Mustinya tidak perlu diperdebatkan berapa jumlahnya, bagaimana cara memberi, apakah ditulis nama, apakah diberi ke hamba Tuhan yang ini atau itu??? Semua ini bisa dijawab masing-masing oleh jemaat sendiri dan pertanggung jawabannya adalah kepada Tuhan.

Jadi teringat dengan Ananias dan Safira... (Semoga kita bisa melakukan yang lebih baik)

Unknown said...

Persembahan yang ikhlas dan tulus itulah persembahan yang akan mendatangkan berkat. Mengenai teknik persembahan tidak akan sama dalam setiap gereja, tapi dasar memberikan persembahan harus sama yaitu Tuhan Yesus. Bila persembahan lebih cendrung ditujukan untuk gereja dan bukan oleh karena Tuhan maka akan mendatangkan protes, persungutan, ketidak percayaan, dll.

Mengenai persepuluhan sudah jelas diatur oleh Allah (bukan gereja/manusia) sendiri sebagai hasil pertama dari penghasilanmu. Mustinya tidak perlu diperdebatkan berapa jumlahnya, bagaimana cara memberi, apakah ditulis nama, apakah diberi ke hamba Tuhan yang ini atau itu??? Semua ini bisa dijawab masing-masing oleh jemaat sendiri dan pertanggung jawabannya adalah kepada Tuhan.

Jadi teringat dengan Ananias dan Safira... (Semoga kita bisa melakukan yang lebih baik)